Dampak Obesitas pada Kesehatan Otak

Dampak Obesitas pada Kesehatan Otak

Dampak Obesitas pada Kesehatan Otak – Obesitas adalah kondisi yang ditandai dengan berat badan yang berada di atas angka normal. Obesitas dapat disebabkan oleh kombinasi faktor, genetika, pola hidup tidak aktif, dan makan berlebihan. Obesitas bukan hanya memengaruhi penampilan, tetapi juga berdampak negatif pada berbagai organ vital dalam tubuh, termasuk otak.

PNS Dilarang Obesitas, Peneliti: Kegemukan Pengaruhi Struktur Otak! :  Okezone Lifestyle

Banyak orang yang sudah sadar tentang bagaimana obesitas dapat meningkatkan risiko berbagai kesehatan. Seperti penyakit kardiovaskular, diabetes, ginjal, serta sistem reproduksi. Namun, tidak banyak yang paham bagaimana obesitas memengaruhi memori dan fungsi kognitif.

1. Meningkatkan risiko demensia

Lemak perut yang lebih banyak memiliki kaitan dengan penurunan volume otak total pada orang dewasa paruh baya. Studi dalam jurnal Neurobiology of Aging tahun 2014 menunjukkan bahwa asupan lemak jenuh dan lemak trans meningkatkan risiko demensia gangguan kognitif lainnya.

Mengkutip https://103.31.38.66/ Lemak ekstra pada tubuh berpotensi memicu peradangan, yang memberi tekanan pada tubuh dan berdampak negatif pada otak. Sementara itu, lemak perut, yang juga dikenal sebagai lemak viseral, melepaskan profil hormon yang unik, yang dapat berdampak pada tubuh dengan cara yang berbeda dari hormon yang dilepaskan oleh lemak subkutan, atau lemak di bawah kulit, yang juga memengaruhi otak secara negatif.

2. Memicu kecanduan makanan

Orang yang kelebihan berat badan cenderung lebih sering mengidam karbohidrat yang meningkatkan pelepasan serotonin dalam darah. Menurut studi dalam jurnal Drugs, meningkatnya serotonin ini merupakan alasan mengapa orang-orang yang terbiasa makan makanan tinggi karbohidrat cenderung makan berlebihan dan mengalami penambahan berat badan.

Menurut https://shopenglandonline.com/ Efek ini serupa dengan yang dialami oleh pengguna narkoba, yang pada akhirnya membutuhkan lebih banyak kokain atau heroin untuk mencapai kesenangan. Kecanduan makanan ini tentunya membuat orang yang mengalami obesitas semakin sulit untuk mengikuti diet penurunan berat badan.

3. Meningkatkan kecenderungan perilaku impulsif

Sebuah penelitian yang dilaporkan dalam jurnal Eating Behaviors. Mengklaim bahwa pada remaja obesitas, korteks orbitofrontal otak atau wilayah yang mengatur perilaku impulsif. Tampaknya mengalami penyusutan jika dibandingkan dengan anak-anak yang berat badannya lebih rendah.

Ketidakmampuan untuk mengontrol makan impulsif ini merupakan salah satu alasan utama mengapa orang yang kelebihan berat badan tidak bisa menahan hasrat untuk makan berlebihan.

4. Obesitas pada perempuan hamil memengaruhi fungsi otak janin

Ibu hamil yang kelebihan berat badan lebih mungkin melahirkan bayi yang mengalami masalah dengan kemampuan kognitif dan IQ rendah. Studi dalam International Journal of Epidemiology bahkan menemukan bahwa ibu yang mengalami obesitas membuat bayi lebih rentan mengembangkan obesitas pada masa kanak-kanak.

Selain itu, penelitian tahun 2016 dalam jurnal Pediatrics melaporkan adanya hubungan erat antara perkembangan gangguan spektrum autisme di antara bayi yang lahir dari perempuan dengan obesitas dan diabetes selama kehamilan. Meskipun begitu, kamu tidak perlu panik. Yang terpenting, tetap rutin konsultasi dengan dokter kandungan dan jaga pola makan selama kehamilan.

5. Menyebabkan gangguan tidur

Gangguan tidur merupakan kondisi yang cukup umum di antara orang dengan kelebihan berat badan. Studi yang diterbitkan dalam The Journal of Clinical Endocrinology & Metabolism menemukan bahwa peningkatan deposisi lemak viseral berkontribusi pada gangguan tidur seperti, sleep apnea, kantuk di siang hari, dan kelelahan.

Comments are closed.